ARTIFICIAL INTELLIGENCE

Dorong UMKM Naik Kelas, Workshop Emping Kekinian di Lebak Padukan Inovasi Kuliner dan Teknologi AI

Lebak, Banten – Transformasi digital kini mulai menyentuh dapur-dapur rumah tangga di pelosok daerah. Workshop Kuliner Olahan Emping Melinjo yang digelar pada 27 Februari 2026 di Saung Ibu Nani, Sindangsari, Kabupaten…

Ibu-ibu workshop emping kekinian di Lebak menggunakan tablet AI untuk desain flyer promosi dengan latar ruangan Saung Ibu ...
Workshop emping kekinian di Lebak, UMKM naik kelas lewat inovasi kuliner & AI.

One Nation PressLebak, Banten – Transformasi digital kini mulai menyentuh dapur-dapur rumah tangga di pelosok daerah. Workshop Kuliner Olahan Emping Melinjo yang digelar pada 27 Februari 2026 di Saung Ibu Nani, Sindangsari, Kabupaten Lebak, menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari kota besar.


Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Indonesia Setara yang dipimpin Sandiaga Uno, berkolaborasi dengan Gebrakan Anak Negeri. Sebanyak 50 ibu rumah tangga (IRT) menjadi peserta utama dalam pelatihan yang menggabungkan inovasi produk dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk pemasaran.


Emping Tradisional Disulap Jadi Produk Kekinian

Emping melinjo selama ini dikenal sebagai camilan tradisional khas Lebak. Namun dalam workshop tersebut, peserta diajak mengembangkan emping menjadi produk bernilai tambah seperti brownies topping emping, emping cokelat, hingga emping karamel.


Pendekatan ini dinilai penting untuk memperluas pasar. Produk tradisional yang dikemas secara modern dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menembus segmen konsumen muda dan pasar digital.


Beberapa media nasional turut menyoroti kegiatan ini. Media Indonesia menekankan pada aspek pelatihan pemasaran digital berbasis AI serta rencana pendampingan selama satu bulan, termasuk dukungan modal usaha.


Sementara Liputan6 menggarisbawahi potensi penciptaan lapangan kerja baru bagi perempuan dan kelompok difabel di Banten melalui pemanfaatan teknologi.


AI untuk Branding dan Promosi Digital

Yang membedakan pelatihan ini dari workshop kuliner biasa adalah penggunaan teknologi AI. Para peserta tidak diajarkan mengubah proses produksi emping yang tetap mempertahankan metode tradisional demi menjaga cita rasa. Sebaliknya, AI dimanfaatkan dalam aspek branding dan promosi.


Dengan teknologi tersebut, ibu-ibu rumah tangga dapat membuat desain flyer promosi secara instan untuk dipasang di media sosial. Visual yang lebih profesional diharapkan mampu meningkatkan daya tarik pembeli serta memperluas jangkauan pasar melalui sistem pre-order.


Hasilnya cukup signifikan. Pada sesi kick-off, peserta berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp4,88 juta melalui sistem pemesanan awal.


Jawa Pos melaporkan bahwa produk inovasi seperti brownies emping dipasarkan dengan kisaran harga Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kotak, dengan strategi pemasaran digital sebagai kunci penetrasi pasar.


Emping sebagai Penopang Ekonomi Lebak

Kegiatan ini juga tidak bisa dilepaskan dari konteks ekonomi lokal. Desa Sindangsari, lokasi workshop berlangsung, merupakan salah satu sentra emping melinjo di Kabupaten Lebak.


BeritaSatu sebelumnya mengulas bagaimana perajin emping di wilayah tersebut tetap bertahan meski menghadapi kenaikan harga bahan baku. Sementara Koran Jakarta mencatat bahwa emping Lebak bahkan telah menembus pasar ekspor ke Arab Saudi, Malaysia, dan Jepang.


Artinya, komoditas ini bukan sekadar camilan lokal, tetapi sudah menjadi bagian penting dari rantai ekonomi daerah.


Transformasi Digital UMKM dari Desa

Dari berbagai laporan media, terlihat bahwa penggunaan AI dalam workshop ini bukan sekadar gimmick teknologi. Fokusnya adalah memperkuat daya saing UMKM melalui peningkatan kualitas visual promosi dan strategi pemasaran digital.


Produksi emping tetap dilakukan secara tradisional untuk menjaga cita rasa dan identitas lokal. Namun pada sisi hilir—branding, kemasan, dan pemasaran—teknologi digital dioptimalkan agar produk mampu bersaing di pasar modern.


Langkah ini mencerminkan arah baru pemberdayaan UMKM: bukan menggantikan tradisi dengan teknologi, melainkan mengawinkan keduanya.


Jika konsisten didampingi, model pelatihan seperti ini berpotensi menjadi contoh bagaimana transformasi digital dapat menjangkau pelaku usaha mikro di daerah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi perempuan di pelosok Lebak.

Pertanyaan umum (FAQ)

  1. 1. What was the main goal of the Emping Melinjo workshop held in Lebak?

    Workshop ini bertujuan untuk memberdayakan UMKM lokal, mengembangkan produk emping tradisional menjadi varian bernilai tambah, dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan pemasaran digital serta membuka pasar baru bagi para pelaku usaha.

  2. 2. Siapa yang mengorganisir workshop tersebut dan siapa saja peserta utamanya?

    Yayasan Indonesia Setara, dipimpin oleh Sandiaga Uno, bekerja sama dengan Gebrakan Anak Negeri. Sebanyak 50 ibu rumah tangga (IRT) dari daerah Sindangsari menjadi peserta utama pelatihan ini.

  3. 3. Bagaimana teknologi AI digunakan selama pelatihan?

    AI tidak mengubah proses produksi emping tradisional, melainkan dipakai untuk pembuatan desain flyer promosi secara instan, pengembangan branding, dan strategi pemasaran digital termasuk sistem pre‑order yang memudahkan pelanggan memesan secara online.

Komentar (0)

  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.